Mengenal Anemia Aplastik, Penyakit Langka yang Diidap Komedian Babe Cabita

- 9 April 2024, 09:36 WIB
Ilustrasi penyakit anemia aplastik.
Ilustrasi penyakit anemia aplastik. /Pixabay/Vector8DIY/

KABAR MESUJI - Penyakit anemia aplastik menjadi perhatian setelah kabar meninggalnya komedian, Babe Cabita pada Selasa, 9 April 2024. Anemia aplastik diketahui diidap oleh Babe Cabita sejak beberapa waktu lalu.

Adapun anemia aplastik adalah suatu kondisi yang terjadi ketika tubuh berhenti memproduksi cukup sel darah baru.

Kondisi ini membuat penderitanya merasa lelah dan rentan terhadap infeksi serta pendarahan yang tidak terkendali.

Baca Juga: Babe Cabita Meninggal Dunia, Sederet Komika Tanah Air Ikut Berbela Sungkawa

Sebagai kondisi yang langka dan serius, anemia aplastik dapat terjadi pada usia berapa pun. Kondisi ini bisa muncul secara tiba-tiba, atau dapat berkembang secara perlahan dan memburuk seiring berjalannya waktu. Anemia aplastik bisa bersifat ringan atau parah.

Pengobatan untuk anemia aplastik mungkin termasuk penggunaan obat-obatan, transfusi darah, atau transplantasi sel punca, yang juga dikenal sebagai transplantasi sumsum tulang.

Gejala Anemia Aplastik

Anemia Aplastik bisa tidak menimbulkan gejala. Namun, saat gejala muncul, tanda-tanda dan gejalanya bisa meliputi:

  • Kelelahan
  • Sesak napas
  • Detak jantung yang cepat atau tidak teratur
  • Kulit pucat
  • Infeksi yang sering atau berkepanjangan
  • Memar atau memar dengan mudah tanpa sebab yang jelas
  • Mimisan dan gusi berdarah
  • Pendarahan yang berlangsung lama dari luka
  • Ruam kulit
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Demam

Anemia aplastik dapat bersifat sementara atau kronis. Kondisi ini bisa parah dan bahkan fatal.

Penyebab Anemia Aplastik

Sel punca di sumsum tulang belakang memproduksi sel darah - sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Pada anemia aplastik, sel punca rusak. Akibatnya, sumsum tulang belakang menjadi kosong (aplastik) atau mengandung sedikit sel darah (hipoplastik).

Penyebab anemia aplastik yang paling umum adalah serangan sistem kekebalan tubuh pada sel punca di sumsum tulang belakang. Faktor lain yang dapat merusak sumsum tulang belakang dan mempengaruhi produksi sel darah meliputi:

  1. Terapi radiasi dan kemoterapi. Meskipun terapi-terapi ini membunuh sel kanker, mereka juga dapat merusak sel sehat, termasuk sel punca di sumsum tulang belakang.
  2. Paparan bahan kimia beracun. Bahan kimia beracun seperti pestisida, insektisida, dan benzene, yang merupakan salah satu bahan bakar bensin, telah dikaitkan dengan anemia aplastik.
  3. Penggunaan obat-obatan tertentu. Beberapa obat, seperti yang digunakan untuk mengobati rematoid artritis dan beberapa antibiotik, dapat menyebabkan anemia aplastik.
  4. Gangguan autoimun. Gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat, dapat melibatkan sel punca di sumsum tulang belakang.
  5. Infeksi virus. Infeksi virus yang mempengaruhi sumsum tulang belakang dapat berperan dalam perkembangan anemia aplastik. Virus yang telah dikaitkan dengan anemia aplastik termasuk hepatitis, Epstein-Barr, cytomegalovirus, parvovirus B19, dan HIV.
  6. Sistem kekebalan tubuh Anda mungkin menyerang sumsum tulang belakang Anda selama kehamilan.
  7. Faktor-faktor yang tidak diketahui. Dalam banyak kasus, dokter tidak dapat mengidentifikasi penyebab anemia aplastik (anemia aplastik idiopatik).

Anemia aplastik adalah kondisi serius yang membutuhkan pengelolaan medis yang cermat. Untuk mencegah komplikasi yang lebih serius, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan.***

Editor: Ikbal Tawakal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah